Jajaki Kerja Sama dengan GGF, Pemkab Lampura Dituntut Buktikan Manfaat Nyata untuk Petani

REDAKSI
Oplus_131072
banner 120x600

Lampung Tengah – Pemerintah Kabupaten Lampung Utara mulai membuka pintu kerja sama dengan dunia usaha untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani. Namun, penjajakan dengan Great Giant Foods (GGF) di Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, jangan berhenti sebatas pertemuan dan wacana.

Bupati Lampung Utara Dr. Ir. Hamartoni Ahadis, M.Si. bersama Sekretaris Daerah Dra. Intji Indriati, M.H., perwakilan DPRD, sejumlah kepala perangkat daerah serta para camat melakukan kunjungan ke Training Centre GGF, Rabu (23/9/2026).

Rombongan diterima Directors Corporate Affairs PT GGF Welly Sugiono dan Senior Manager Corporate Affairs GGF Hendri Tanujaya beserta jajaran.

Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama, khususnya pengembangan sektor pertanian hortikultura. Pemkab Lampung Utara memaparkan potensi pertanian daerah dan membuka peluang kolaborasi dengan GGF untuk meningkatkan produktivitas sekaligus nilai tambah hasil pertanian.

Di atas kertas, langkah tersebut terdengar menjanjikan. Tetapi tantangan sebenarnya justru dimulai setelah meja pertemuan ditinggalkan.

Sebab, persoalan petani bukan semata soal produksi. Petani membutuhkan kepastian pasar, harga yang layak, akses terhadap teknologi, pendampingan, permodalan, hingga kepastian bahwa hasil panen mereka benar-benar terserap.

Karena itu, kerja sama dengan perusahaan besar semestinya tidak berhenti pada seremoni, diskusi, atau pertukaran gagasan. Harus ada desain kerja sama yang jelas, siapa yang menjadi penerima manfaat, komoditas apa yang dikembangkan, berapa kapasitas produksinya, bagaimana mekanisme pembelian hasil panen, serta sejauh mana pemerintah memberikan perlindungan dan pendampingan kepada petani.

Bupati Hamartoni menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah dan dunia usaha dalam pengembangan sektor pertanian. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membuka peluang lebih luas bagi petani untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah hasil pertanian.

Namun publik tentu menunggu satu hal: kapan penjajakan ini berubah menjadi program yang benar-benar dirasakan petani

Lampung Utara memiliki potensi pertanian yang besar. Persoalannya bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana memastikan peningkatan produksi tersebut berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan petani.

Jangan sampai petani hanya menjadi objek program, sementara nilai tambah terbesar justru berhenti di mata rantai setelah hasil pertanian keluar dari lahan.

Karena itu, komunikasi Pemkab Lampung Utara dengan GGF perlu segera ditindaklanjuti dengan pembahasan yang lebih konkret dan terukur. Jika memang kerja sama akan dibangun, harus ada target, skema, komoditas prioritas, pola kemitraan, pendampingan, akses pasar dan indikator keberhasilan yang jelas.

Ujungnya sederhana: bukan seberapa megah kerja sama dibicarakan, tetapi seberapa nyata dampaknya terhadap kehidupan petani Lampung Utara.

Sebab kesejahteraan petani tidak lahir dari seremoni. Ia lahir dari produktivitas yang meningkat, pasar yang terbuka, harga yang wajar dan pendapatan yang benar-benar bertambah. (**)

banner 450x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *