KOTABUMI — Pembinaan warga binaan tidak boleh berhenti di balik tembok lembaga pemasyarakatan. Bekal keterampilan dan kemandirian menjadi bagian penting agar mereka memiliki kemampuan untuk kembali menjalani kehidupan dan diterima di tengah masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Dialog Kemanusiaan “Lapor Pimpinan” yang menghadirkan Bupati Lampung Utara Dr. Ir. Hamartoni Ahadis, M.Si. sebagai narasumber di Lapas Kelas IIA Kotabumi, Rabu (30/9/2026).
Dialog yang melibatkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara tersebut membahas penguatan program pembinaan sekaligus membuka ruang kolaborasi untuk mendorong warga binaan memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan secara produktif.
Kegiatan turut dihadiri Kepala Lapas Kelas IIA Kotabumi Tomi Elyus, A.Md.I.P., S.Sos., S.H., M.Si. beserta jajaran. Hadir pula perwakilan sejumlah organisasi perangkat daerah, di antaranya Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Kominfo, Bappeda, Badan Kesbangpol, Dinas Sosial, Dinas Koperasi dan UMKM, serta Sekretariat Bawaslu.
Dari unsur organisasi kemahasiswaan, hadir Ketua HMI Cabang Lampung Utara Bayu Iswari beserta pengurus dan Ketua KAHMI Lampung Utara Madri Daud, S.E., M.H. Dialog juga melibatkan warga binaan Lapas Kelas IIA Kotabumi.
Sejumlah kebutuhan dan gagasan pembinaan dibahas dalam forum tersebut. Salah satunya pengembangan program pengelolaan sampah yang membutuhkan dukungan sarana berupa kendaraan pengangkut sampah agar kegiatan dapat berjalan lebih optimal.
Tak berhenti pada pengelolaan lingkungan, program pembinaan juga diarahkan pada sektor yang memiliki nilai ekonomi dan keterampilan praktis. Salah satu yang diwacanakan adalah peternakan ayam petelur.
Program tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan nilai ekonomis selama berada di Lapas, tetapi juga memberikan pengalaman dan keterampilan beternak yang dapat menjadi modal bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat.
Dukungan terhadap kegiatan pertanian di lingkungan Lapas turut menjadi perhatian, termasuk kebutuhan pupuk sebagai penunjang kegiatan produktif warga binaan.
Konsep pembinaan tersebut menempatkan warga binaan bukan sekadar sebagai penerima pembinaan, tetapi sebagai individu yang perlu dipersiapkan agar mampu produktif, mandiri dan memiliki keterampilan setelah bebas.
Kolaborasi Pemkab Lampung Utara, Lapas, HMI, KAHMI dan sejumlah perangkat daerah diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat pembinaan berbasis keterampilan dan pemberdayaan.
Sebab, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari berjalannya aktivitas di dalam Lapas, tetapi juga dari sejauh mana warga binaan memiliki bekal untuk membangun kehidupan baru ketika kembali ke tengah masyarakat. (Arif)














